• Rab. Apr 24th, 2024

Miris, Logistik Hanya Melintas ke Mamuju, Pengungsi di Majene Kehujanan dan Makan Secukupnya

By

Jan 18, 2021

INSIDENNEWS.com, MAJENE– Dampak dari Gempa Bumi yang terjadi di Kabupaten Majene Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (15/1/2021) lalu, membuat warga ketakutan. Akhirnya berinisiatif untuk membuat tenda pengungsian di dataran yang lebih tinggi.

Para warga yang terdampak gempa bumi di Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene Sulawesi Barat. Keluhkan bantuan, yang tak kunjung tiba di tempat ia mengungsi di Stadion Sport Center, Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene Sulawesi Barat.

Hal itu diungkapkan, Mashut yang telah mengungsi sejak, Kamis (14/1/2021) sore, awal dari gempa yang di analisis peta guncangan BMKG dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity, gempa M5,9 memicu kekuatan guncangan IV MMI di Mamuju, III – IV MMI di Majene, Mamuju Utara, Majuju Tengah, III MMI di Toraja, Mamasa, II – III MMI di Pinrang, Pare-pare, Wajo, Polewali Mandar, Tanah Grogot, II MMI di Balikpapan.

“Sejak kami mengungsi, sedikitpun belum ada bantuan yang masuk ketempat pengunsian kami. Jangan, hanya fokuskan di Mamuju saja, kami disini juga sangat membutuhkan bantuan,”ucapnya, Selasa (19/1/2021).

Ia menambahkan, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Majene, agar memperhatikan warganya yang juga sangat kesulitan.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Majene. Tolong kami juga diperhatikan, kami sangat mebutuhkan tenda, apalagi ini musim hujan. Disini kami kelaparan dan sangat membutuhkan bantuan logistik,”tandasnya.

Keluhan juga dilontarkan oleh salah satu warga yang mengungsi, Haril yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak untuk membantu kebutuhan istri, anak dan cucunya, sebelum Wabah Covid-19 ada.

“Sejak Corona ada, saya sudah tidak ada kerjaan lagi, ditambah lagi, daerah kami terkena musibah yang membuat kami harus mengungsi,”ucapnya.

Ditempat kami mengungsi, lanjutnya, kami sangat kesulitan. Uang yang harusnya untuk membeli kebutuhan sehari-hari, terpaksa harus kami belikan tenda dengan harga Rp 140,000 dengan lebar 4×6,”ujarnya.

Haril mengungkapkan, belum mendapatkan bantuan apapun, baik itu dari pemerintah setempat atau bantuan dari luar.

“Disini kami hanya bisa pasrah, karena takut akan adanya gempa susulan yang berpotensi tsunami. Kami hanya bisa mengharapkan bantuan-bantuan dari luar dan Pemerintah Daerah Kabupaten Majene,”ucap kakek usai mengambil air bersih untuk diminum bersama keluarganya ditenda pengunsian.(*/7ar)

By

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *