INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat (YLP2M) yang dipimpin Dr. Ibrahim Pattah menggelar kegiatan penguatan kapasitas bagi forum media dan jurnalis dengan tema “Analisis Pemberitaan Berperspektif GEDSI dan Dampak Perubahan Iklim”, Kamis (20/11/2025)di Kafe Karajae, samping BCA Jalan Andi Makkasau, Kota Parepare.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi jurnalis untuk memperdalam pemahaman mengenai perspektif inklusif serta isu lingkungan yang semakin mendesak.
Pada sesi tanya jawab, salah satu jurnalis, Hendro, mengemukakan kritik dan keluhan terkait persoalan pengelolaan sampah di Kota Parepare. Ia menuturkan bahwa pemilahan sampah yang telah dilakukan warga kerap tidak efektif karena lambannya pengangkutan.
“Kami sudah lakukan pemilahan, tapi ketika sampah ditaruh di tempat penampungan, tiga sampai empat hari baru diambil. Saya pernah tanya langsung ke petugas, alasannya kendaraan tidak memadai,” ujar Hendro.
Ia menilai Pemerintah Kota Parepare perlu menaruh perhatian serius pada pengadaan armada pengangkut sampah yang layak. Menurutnya, armada saat ini banyak yang rusak dan tidak memenuhi kebutuhan operasional.
“Kenapa tidak dari dulu kita pikirkan? Ini kebutuhan mendesak. Untuk apa bangun jalan kalau sampah saja tidak tertangani?” tambahnya.
Hendro juga menyoroti kebutuhan peningkatan kesejahteraan dan jumlah tenaga kebersihan. Ia berpendapat bahwa petugas lapangan layak mendapatkan penghargaan lebih besar dibanding pegawai kantor.
“Pengangkatan P3K kemarin sama sekali tidak memasukkan kebersihan. Padahal mereka sangat dibutuhkan.”
Selain persoalan sampah, Hendro menyampaikan potensi pengembangan tanaman kaliandra (kaliangra) sebagai sumber energi biomassa. Ia menyebut perusahaannya, Energi Biomassa Pare yang telah menyiapkan bibit dan menawarkan kerja sama kepada pemerintah daerah.
Tanaman kaliandra, kata dia, tidak merusak ekosistem, dapat tumbuh berdampingan dengan tanaman lain, dan bisa dipanen sekali setahun selama hingga tujuh tahun.
“Kami punya bibit, tapi butuh lahan. Tanaman ini tidak mengganggu tanaman lain dan bisa menjadi sumber energi. Kami sudah bekerjasama dengan PLN terkait pengembangannya,” jelas Hendro.
Ia menambahkan, jika pemerintah atau masyarakat menyediakan lahan, pihaknya siap membeli hasil panen dari petani.
“Teman-teman tinggal jaga saja, satu tahun bisa dipotong dan kami beli. Ini bisa jadi peluang ekonomi baru sekaligus mendukung energi terbarukan,” tutupnya.
Kegiatan YLP2M tersebut ditutup dengan penegasan pentingnya pemberitaan yang responsif terhadap keragaman, inklusi, serta keberlanjutan lingkungan, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. (*)