INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Para jurnalis Kota Parepare untuk pertama kalinya menginisiasi kegiatan Simulasi Penanganan Kebencanaan bagi Difabel dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional 2025. Dengan mengusung tema “Mitigasi Berkeadilan, Perlindungan Setara bagi Penyandang Disabilitas”, kegiatan yang digelar di kantor BPBD Kota Parepare, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (3/11/2025), menjadi tonggak penting dalam upaya menghadirkan layanan kebencanaan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Ketua pelaksana yang juga jurnalis Parepare, Abdillah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan perhatian khusus pada kebutuhan difabel dalam situasi darurat.
“Difabel memiliki kebutuhan khusus. Karena itu, BPBD juga harus memahami bagaimana menangani mereka dengan lebih sigap ketika terjadi kondisi darurat,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung berkat dukungan berbagai pihak melalui swadaya, mulai dari komunitas inklusi, organisasi bakti sosial, YLP2EM, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, DPD Gerkatin Parepare, Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia, The Bogar, Kapolsek KPN, hingga BPBD yang menyediakan sarana prasarana.
Dalam simulasi, peserta diperagakan cara penyelamatan diri sesuai SOP kebencanaan bagi difabel, seperti teknik melindungi kepala saat gempa, prosedur evakuasi menuju titik kumpul, hingga pemanfaatan benda sekitar sebagai alat bantuan darurat.
“Saat skenario banjir misalnya, botol-botol bekas dapat dijadikan alat bantu pertolongan pertama. Ini sangat membantu penyandang disabilitas,” jelas Abdillah.
Ia juga menekankan pentingnya BPBD menghadirkan akses informasi kebencanaan yang ramah difabel, termasuk pemahaman terhadap bentuk komunikasi khusus komunitas disabilitas.
“Mitigasi bencana tidak boleh hanya berfokus pada aspek teknis. Semua orang, termasuk difabel, harus mendapatkan akses perlindungan yang adil, setara, dan bermartabat,” tambahnya.
Abdillah mengungkapkan bahwa ide kegiatan ini bermula dari diskusi santai bersama jurnalis Samsuddin dari Kompas TV. Awalnya mereka berencana menggelar pelatihan penulisan berita untuk BPBD, namun momentum Hari Disabilitas Internasional mengubah arah kegiatan menjadi simulasi penanganan kebencanaan khusus difabel.
“Alhamdulillah BPBD merespons dengan sangat baik,” katanya.
Kegiatan ini dianggap sebagai yang pertama di Indonesia yang menggabungkan unsur jurnalis dalam pelaksanaan simulasi penanganan kebencanaan khusus difabel. Bahkan peserta dari luar daerah turut hadir, termasuk Ketua PPDI Sulawesi Selatan dan Ketua Disabilitas Enrekang.
“Beliau hadir karena PPDI di Parepare mendapat perhatian lebih,” ungkap Abdillah.
Ia berharap kegiatan ini dapat berlanjut sebagai program tahunan untuk membangun kesadaran publik bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam perlindungan bencana.
“Disabilitas tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka harus setara dalam mendapatkan perlakuan saat bencana,” tegasnya. (*)