INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Upacara peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa digelar khidmat di Monumen Korban 40.000 Jiwa, Jalan Mesjid Raya, Kota Parepare, Kamis (11/12/2025). Kapolres Parepare, AKBP Indra Waspada Yuda, bertindak sebagai inspektur upacara dalam agenda tahunan yang menjadi bagian penting dari sejarah panjang Sulawesi Selatan tersebut.
Dalam sambutannya, Kapolres Indra menegaskan bahwa peringatan ini merupakan bentuk penghormatan mendalam terhadap puluhan ribu jiwa yang menjadi korban dalam tragedi kemanusiaan yang tercatat kuat dalam memori kolektif masyarakat Parepare dan Sulawesi Selatan.
“Hari ini kita berdiri di tempat yang sakral, Monumen Korban 40.000 Jiwa, sebagai bentuk penghormatan, refleksi, dan komitmen untuk tidak melupakan sejarah,” ujarnya.
Indra menuturkan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga warisan keteladanan berupa semangat perjuangan, keberanian, dan cinta tanah air yang masih relevan hingga saat ini.
Atas nama Pemerintah Kota Parepare, ia menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada para pahlawan dan syuhada yang telah gugur.
“Semoga Allah SWT melapangkan tempat mereka dan menjadikan perjuangannya sebagai cahaya bagi perjalanan bangsa,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, serta menanamkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan Kota Parepare, kata Indra, berdiri dan berkembang berkat fondasi perjuangan para pendahulu yang harus terus dijaga.
Kapolres Indra juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari TNI, Polri, ASN, ormas, tokoh agama, hingga pemuda, untuk bersama menjaga keamanan dan kondusivitas kota.
“Parepare tidak boleh lupa sejarahnya, dan Parepare harus melangkah menuju masa depan yang lebih baik dengan semangat persatuan,” tegasnya.
Menutup sambutannya, ia mengingatkan bahwa kemerdekaan dan kedamaian yang dinikmati saat ini merupakan hasil pengorbanan besar para pahlawan.
“Peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa harus menjadi pengingat bahwa kebebasan ini dibayar mahal oleh air mata, darah, dan pengorbanan ribuan jiwa,” tutup Indra. (*)