INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Jajaran Manajemen PT PLN (Persero) UP3 Parepare menerima kunjungan dan audiensi pengurus Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kota Parepare di Kantor PLN UP3 Parepare, Jalan Veteran, Senin (28/09/2026).
Audiensi ini dilakukan guna membahas penanganan pemadaman listrik berkala yang melanda wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Sulawesi Tenggara, sekaligus menyampaikan aspirasi serta usulan solusi dari masyarakat.
Manager PLN UP3 Parepare, M. Akbar, menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh pelanggan dan masyarakat atas ketidaknyamanan akibat pemadaman listrik yang terjadi sejak September lalu.
“Permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada masyarakat. Pemadaman yang terjadi merupakan dampak dari gangguan mendadak pada pembangkit kami di PLTU Jeneponto, sehingga perlu pemeliharaan secara berkala,” ujar M. Akbar saat memberikan penjelasan.
Akbar menjelaskan, guna mempercepat proses perbaikan, sebanyak 230 personel dari UP3B telah dikerahkan untuk bekerja secara non-stop dalam 3 shift. Meski penormalan awal per 5 September belum maksimal secara keseluruhan, progres perbaikan terus berjalan.
“Secara bertahap, durasi pemadaman yang awalnya mencapai 4 hingga 5 jam kini berhasil ditekan menjadi 2 hingga 3 jam. Berdasarkan masukan dari audiensi Pemuda Pancasila, kami juga berupaya memperluas area skema pemadaman dengan durasi yang lebih pendek, yakni ditargetkan sekitar 1 hingga 1,5 jam agar tidak terlalu memberatkan warga, UMKM, dan ibu rumah tangga,” terangnya.
Ia menambahkan, jajaran Direksi PLN juga telah melakukan investigasi langsung ke PLTU Jeneponto dan menyusun empat langkah percepatan, di antaranya penambahan kapasitas pembangkit sekitar 600 MW, optimalisasi pembangkit lain, serta rencana Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengatasi penurunan debit air di PLTA Bakaru dan PLTA Poso akibat dampak cuaca/El Nino.
“Target kami dari pihak pemeliharaan/pembangkitan, insya Allah pada akhir September seluruh sistem pembangkit dapat kembali normal,” kata Akbar.
Sementara itu, Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Parepare, Fadly Agus Mante, menegaskan bahwa kedatangan organisasinya bukan sekadar mengkritik, melainkan membawa solusi serta data klarifikasi agar masalah pemadaman tidak dipandang secara sepihak.
“Strategi gerakan kami tidak serta-merta atau mendadak. Kami bersurat resmi dan meminta klarifikasi awal dalam rangka pembuktian data. Kami mengapresiasi PLN yang terbuka menerima masukan teknis dari kami,” ujar Fadly Agus Mante.
Namun demikian, Fadly mengingatkan PLN agar memiliki keberanian menyampaikan aspirasi ke tingkat pusat terkait keseimbangan pasokan listrik antara industri skala besar (smelter) dan kebutuhan dasar masyarakat.
“PLN harus lebih memiliki sense of crisis terhadap masyarakat dibanding kepentingan oligarki atau kapitalisme. Kami mendorong PLN Pusat menyiapkan langkah mitigasi konkret minimal satu tahun sebelumnya untuk mengantisipasi potensi pemadaman, baik teknis maupun dampak cuaca seperti El Nino,” tegas Fadly.
Ia juga menyarankan agar PLN memperkuat pemanfaatan energi terbarukan seperti Tenaga Surya (PLTS) serta menyiapkan genset cadangan untuk situasi darurat di masa mendatang. (*)