INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat (YLP2M) yang dipimpin Dr. Ibrahim Pattah menggelar kegiatan penguatan kapasitas bagi forum media dan jurnalis dengan tema Analisis Pemberitaan Berperspektif GEDSI dan Dampak Perubahan Iklim. Kegiatan berlangsung di Kafe Karajae, samping BCA Jalan Andi Makkasau, Kota Parepare, Kamis (20/11/2025).
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Parepare, Andi Aminah, yang memaparkan sejumlah poin penting terkait pengelolaan sampah, perspektif lingkungan, serta keterkaitannya dengan perubahan iklim.
Dalam pemaparannya, Andi Aminah menekankan bahwa ada tiga langkah penting dalam upaya mengurangi timbulan sampah, yaitu konsep 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle. Menurutnya, langkah pertama reduce atau mengurangi penggunaan barang sekali pakai merupakan hal yang sangat mendasar dalam pengelolaan sampah.
“Contohnya, botol minuman yang ada di depan kita. Bukan berarti tidak boleh digunakan, yang penting dikelola dengan baik dan tidak dibuang sembarangan. Jika pun masuk ke TPA, yang penting sudah terpilah sehingga petugas pengangkut sampah bisa memilah kembali dan bahkan menjualnya untuk kebutuhan keluarga,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemilahan sampah sejak dari rumah adalah kunci utama. Dengan memilah, masyarakat tidak lagi harus mengais sampah di mobil pengangkut atau di TPA.
“Sangat penting memilah sampah. Ini mengurangi beban dan memudahkan proses daur ulang,” tambahnya.
Aminah juga mengimbau masyarakat untuk membiasakan membawa kantong belanja sendiri saat ke supermarket. Kantong belanja yang sudah ada dapat dicuci, dikeringkan, digunakan kembali, dan dilipat untuk penggunaan berikutnya. Ia mendorong masyarakat menghindari produk dalam kemasan saset atau sekali pakai, serta membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.
Pada ranah reuse, ia menyebut penggunaan kembali bahan yang masih layak pakai sebagai langkah efektif. Proses pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah, katanya, akan terus berulang sehingga langkah pencegahan di hulu menjadi lebih penting.
Lebih jauh, Andi Aminah menjelaskan bahwa sampah makanan yang tidak dihabiskan turut menyumbang emisi karbon. Tumpukan sampah organik dapat menghasilkan gas metana yang memicu pemanasan global. Ia kemudian memaparkan dasar hukum terkait perubahan iklim sebagaimana termuat dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 dan UU Nomor 6 Tahun 1994.
“Perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara, serta aktivitas yang berhubungan dengan hutan, pertanian, dan peternakan,” terangnya.
Aminah menekankan bahwa pemanasan permukaan bumi berpengaruh besar pada perubahan iklim dalam jangka panjang. Aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk mahasiswa dan kelompok muda, dinilai dapat berkontribusi dalam pengelolaan sampah dan penerapan gaya hidup ramah lingkungan.
Kegiatan YLP2M ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas jurnalis dan forum media dalam menyajikan pemberitaan yang tidak hanya informatif tetapi juga berperspektif GEDSI serta responsif terhadap isu perubahan iklim. (*)