Damkar Parepare Tekankan Pencegahan Kebakaran dalam Pelatihan Code Red di RS Ainun Habibie

INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Parepare menekankan pentingnya pencegahan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran saat memberikan materi pelatihan Code Red di RS Dr. Hasri Ainun Habibie Parepare, Rabu (26/8/2026).

Analisis Kebijakan Ahli Muda Dinas Pemadam Kebakaran Kota Parepare, Safrudin, mengatakan pelatihan tersebut menjadi momentum untuk berbagi pengetahuan mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran, khususnya di lingkungan rumah sakit.

“Kami cuma berbagi ilmu dan pengetahuan terkait yang namanya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Jadi sebelum kita masukin Code Red, artinya kode merah,” ujar Safrudin saat menyampaikan materi di ruang pertemuan lantai 3 RS Dr. Hasri Ainun Habibie.

Menurutnya, pemahaman mengenai kebakaran tidak hanya diperlukan ketika api sudah muncul, tetapi juga bagaimana mengenali risiko serta melakukan pencegahan sejak dini.

Ia menjelaskan, setiap orang perlu memahami langkah-langkah pencegahan agar mampu mengenali potensi kebakaran, mempersiapkan diri, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.

“Pencegahan dan penanggulangan kebakaran mewujudkan lingkungan aman, selamat, bebas dari kebakaran. Jadi bagaimana kita mencegah kebakaran, bagaimana kita kenali risikonya, bagaimana kita siapkan diri, dan bagaimana cara kita tanggap terhadap kebakaran tersebut,” tuturnya.

Safrudin mengibaratkan prinsip pencegahan kebakaran dengan dunia kesehatan yang mengenal pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati. Menurutnya, prinsip tersebut juga berlaku dalam penanggulangan kebakaran.

“Di Damkar itu lebih baik mencegah daripada kita memadamkan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Safrudin turut menjelaskan konsep terbentuknya api. Menurutnya, api merupakan reaksi cepat atau oksidasi yang terjadi ketika unsur panas, oksigen, dan bahan bakar bertemu dalam kondisi yang sesuai.

“Api dalam dunia pemadam kebakaran adalah reaksi cepat atau oksidasi yang terjadi ketika unsur utama, panas, oksigen, dan bahan bakar bertemu dalam jumlah yang pas,” jelasnya.

Ia memberikan contoh sederhana dengan menutup lilin menggunakan gelas. Ketika suplai oksigen tidak mencukupi, api akan padam.

Safrudin juga menjelaskan perkembangan konsep unsur pembentukan api. Jika sebelumnya dikenal istilah segitiga api yang terdiri dari bahan bakar, panas, dan oksigen, kini terdapat satu unsur tambahan, yakni reaksi berantai kimia.

“Yang pertama bahan bakar, panas, oksigen. Yang terakhir, yang terbaru adalah reaksi berantai kimia,” ungkapnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap empat unsur pembentukan api tersebut penting untuk menentukan teknik pemadaman yang tepat, salah satunya dengan memutus rantai terjadinya kebakaran melalui proses pendinginan.

Ia menambahkan, terdapat dua pendekatan dalam teknik pemadaman api yang dikenal di lingkungan pemadam kebakaran, yakni cara tradisional dan modern.

“Kalau memadamkan api yang kami kenal di pemadam kebakaran itu ada dua cara, dengan cara tradisional dan dengan cara modern,” pungkasnya.

Melalui pelatihan dan simulasi tersebut, civitas hospital diharapkan tidak hanya memahami prosedur Code Red, tetapi juga mampu melakukan pencegahan, mengenali potensi bahaya, serta merespons kebakaran secara cepat dan tepat demi keselamatan pasien, pengunjung, dan seluruh tenaga rumah sakit. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *