Dies Natalis ke-5, ITH Parepare Siapkan Inovasi Pertanian Berbasis Teknologi

INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITH) Parepare menyiapkan pengembangan teknologi pertanian yang dipadukan dengan robotika dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Langkah ini menjadi bagian dari upaya pengembangan institusi sekaligus mendorong modernisasi sektor pertanian, khususnya di Sulawesi Selatan dan kawasan Sulawesi pada umumnya.

Hal tersebut disampaikan Rektor ITH Parepare, Prof. Ansar Suyuti, usai Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-5 ITH yang digelar di Gedung Pemuda, Jalan Pemuda, Kota Parepare, Sabtu (17/10/2026).

Prof. Ansar Suyuti menjelaskan, menghadirkan Menteri Pertanian dalam rangka membahas pengembangan ITH ke depan, terutama terkait peluang pengembangan teknologi pertanian yang dinilai memiliki potensi besar.

“Yang pertama itu kan kita tadi mendatangkan itu kepala, sebenarnya yang kita datangkan itu Pak Menteri Pertanian dalam rangka pengembangan ITH ke depan, terutama kan bisnis di bidang teknologi pertanian tadi itu. Yang begitu besar ya, terutama kita yang ada di Sulawesi Selatan, ini Sulawesi pada umumnya,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, gagasan pengembangan teknologi pertanian tersebut juga berkaitan dengan pesan pendiri ITH, Dr. Taufan Pawe, saat keduanya bertemu. Menurutnya, Taufan Pawe mempertanyakan alasan belum adanya teknologi pertanian di antara program studi yang dikembangkan ITH.

“Yang kita harus kembangkan dan juga waktu ketemu kita sama pendiri ITH ya, Pak Dr. Taufan Pawe, itu memang dia sampaikan itu, dari 19 kenapa tidak ada teknologi pertanian? Saya bilang, oh ternyata itu pesannya Pak Habibie, makanya kita datangkan Pak Mentan sebenarnya seperti itu,” jelasnya.

Prof. Ansar mengatakan, ITH merupakan salah satu dari lima institut teknologi negeri di Indonesia. Empat institusi lainnya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan Institut Teknologi Kalimantan (ITK).

Menurutnya, meski baru berusia lima tahun, ITH terus berupaya mengembangkan institusi secara mandiri, mulai dari penerimaan dan pembinaan dosen hingga pembangunan kampus.

Ia menjelaskan, pola pengembangan ITH berbeda dengan ITERA dan ITK yang memperoleh pembinaan dari perguruan tinggi teknologi yang lebih dahulu berdiri. ITERA dibina oleh ITB, sedangkan ITK dibina oleh ITS.

“Kalau kita ini memang spesifik karena kita langsung terima dosen baru, baru kita bina sendiri, terus kita juga sama-sama juga semua dengan pembangunannya,” katanya.

Ia menambahkan, ITH telah membentuk 19 program studi dalam waktu kurang dari empat tahun. Capaian tersebut menjadi salah satu fondasi bagi kampus untuk terus memperluas bidang keilmuan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Terkait pengembangan teknologi pertanian, Prof. Ansar menyebutkan bahwa ITH telah memiliki program studi Bioteknologi dan Teknologi Pangan. Ke depan, kampus membuka peluang untuk mengembangkan program studi Teknologi Pertanian sebagai bagian dari penguatan bidang tersebut.

Menurutnya, pengembangan teknologi pertanian nantinya akan diarahkan pada integrasi robotika dan kecerdasan buatan. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu membantu proses pertanian menjadi lebih modern dan efisien.

“Teknologi pertanian nanti itu kita akan gabungkan dengan robotik dan AI, sehingga ya kita bisa melihat bahwa dengan robot, semuanya nanti itu kayak pertanian, misalnya tidak perlu lagi orang yang bisa bekerja dan seterusnya,” ujarnya.

Ia berharap inovasi tersebut dapat mendorong generasi muda untuk kembali melirik sektor pertanian dan bersedia mengembangkan usaha pertanian di desa. Dengan dukungan teknologi, pertanian diharapkan menjadi bidang yang lebih menarik bagi anak muda.

“Sehingga ya diharapkan anak-anak muda itu sudah mau turun kembali ke desa untuk bertani. Itu kita harapkan,” tambahnya.

Selain pengembangan program studi dan inovasi teknologi, ITH Parepare juga mendorong mahasiswa menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Prof. Ansar mengatakan, program pendidikan dirancang selama empat tahun atau delapan semester, dengan harapan mahasiswa dapat menyelesaikan studi sesuai target tanpa harus menempuh waktu hingga lima tahun.

“Kita punya program sebenarnya empat tahun dalam arti delapan semester ya, mereka yang selesai ini itu tiga setengah semester, jadi harapan kita itu nanti mahasiswa itu ya sudah harus selesai, tidak ada mungkin yang sampai lima tahun, harapan kita itu dia bisa selesai,” tuturnya.

Sebagai tindak lanjut rencana pengembangan teknologi pertanian tersebut, ITH juga telah diminta menyiapkan proposal terkait studi pertanian. Proposal itu ditargetkan rampung paling lambat pekan depan.

“Kita tadi sudah disuruh buat proposal terkait studi pertanian dalam waktu minggu depan, paling lambat katanya,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *