INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Memasuki usia perak ke-25 tahun, STIKES Fatima Parepare terus menunjukkan perkembangan signifikan dengan berbagai capaian akademik dan rencana pengembangan yang ambisius. Selain berhasil meningkatkan status akreditasi institusi hingga meraih predikat “Unggul”, kampus kesehatan tersebut kini menargetkan ekspansi ke tingkat internasional serta transformasi menjadi universitas di masa mendatang.
Puncak perayaan Dies Natalis ke-25 yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) diwarnai dengan ibadah syukur dan ramah tamah bersama mitra, alumni, sponsor, serta berbagai pihak yang selama ini mendukung perjalanan STIKES Fatima Parepare. Sebelumnya, panitia juga menggelar sejumlah kegiatan sosial dan kompetisi, seperti donor darah, seminar kesehatan, jalan sehat, hingga lomba menyanyi untuk pelajar dan remaja.
Ketua Yayasan Sentosa Ibu (YSI), Henrika Dwi Nawangsari Sugianto, menyampaikan apresiasinya terhadap kemajuan yang telah dicapai STIKES Fatima selama 25 tahun terakhir. Menurutnya, kampus yang dahulu dikenal sebagai Akper Fatima kini telah berkembang pesat dan memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global.
“Harapan saya ke depan, Fatima bisa lebih mengembangkan sayapnya keluar, go worldwide. Potensi perawat Indonesia sangat bisa diandalkan dan memiliki peluang besar di pasar internasional,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap visi tersebut, yayasan berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap berbagai program pengembangan, termasuk kerja sama internasional yang membuka peluang bagi mahasiswa dan alumni untuk berkarier di luar negeri, seperti Jepang dan Australia.
Sementara itu, Direktur STIKES Fatima Parepare, Dr. Ners Hendrick, S., mengungkapkan bahwa perayaan Dies Natalis ke-25 juga menjadi momentum peluncuran program Bahasa Jepang dan kursus IELTS sebagai upaya meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.
Menurutnya, STIKES Fatima telah menjalin kerja sama dengan Global Gates untuk program magang mahasiswa ke Jepang selama satu tahun. Program tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi alumni, tetapi juga mahasiswa aktif yang ingin memperoleh pengalaman internasional.
“Kami resmi me-launching program Bahasa Jepang. Mahasiswa aktif memiliki kesempatan magang ke Jepang selama satu tahun dengan uang saku atau biaya hidup sekitar Rp18 juta hingga Rp20 juta per bulan,” jelasnya.
Selain fokus pada internasionalisasi, STIKES Fatima juga telah menyiapkan roadmap pengembangan institusi jangka panjang. Dalam waktu dekat, kampus tersebut menargetkan pembukaan Program Studi S1 Keperawatan (Ners) sebagai langkah awal menuju perubahan bentuk menjadi institut, kemudian universitas.
“Target kami dalam satu tahun ke depan adalah studi kelayakan pembukaan S1 Keperawatan.
Setelah itu, kami menargetkan berubah menjadi institut dan kemudian universitas. Saat memasuki usia emas 50 tahun, kami berharap sudah memiliki berbagai program studi, mulai dari Keperawatan, Farmasi, Kedokteran hingga bidang non-kesehatan seperti Teknologi Informasi dan Sosial Politik,” kata Dr. Hendrick.
Untuk mendukung rencana tersebut, pihak yayasan telah menyiapkan lahan di kawasan Lauleng dan sekitar lokasi kampus saat ini guna pembangunan Kampus 2 dan Kampus 3. Langkah itu diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya cita-cita besar menghadirkan Universitas Fatima di Kota Parepare. (*)