INSIDENNEWS.com, PAREPARE– Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Fatima Parepare membuka peluang bagi mahasiswa keperawatan untuk mengikuti program magang di Jepang dengan penghasilan mencapai Rp18 juta hingga Rp20 juta per bulan. Program ini merupakan respons terhadap tingginya kebutuhan tenaga perawat dan pendamping lansia di Jepang yang tengah menghadapi krisis tenaga kerja usia produktif.
Ketua Bidan STIKES Fatima Parepare, Agustina, menjelaskan bahwa Jepang saat ini membutuhkan banyak tenaga kesehatan, khususnya perawat yang mampu menangani populasi lanjut usia yang jumlahnya terus meningkat.
“Yang paling mereka butuhkan selain tenaga teknisi adalah tenaga perawat, baik di rumah sakit maupun panti wreda. Perawat kita sudah memiliki keterampilan merawat lansia, sehingga yang perlu dipersiapkan adalah kemampuan bahasa Jepang,” ujar Agustina, saat dikonfirmasi di STIKES Fatimah Parepare, Sabtu (6/6/2026) kemarin
Menurutnya, peluang tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan, tetapi juga mahasiswa yang masih menempuh pendidikan. Mahasiswa berkesempatan mengikuti program magang selama satu tahun di Jepang dengan status cuti akademik saat memasuki semester enam.
“Mahasiswa yang diterima magang bisa memperoleh gaji antara Rp18 juta sampai Rp20 juta per bulan selama satu tahun. Setelah kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan studi, mereka memiliki peluang besar untuk kembali bekerja di Jepang dengan proses yang lebih mudah karena sudah memiliki pengalaman dan kemampuan bahasa,” jelasnya.
Untuk mendukung program tersebut, STIKES Fatima Parepare mulai menyiapkan mahasiswa melalui pelatihan bahasa Jepang sejak dini. Pembelajaran diawali secara daring dan nantinya akan dilanjutkan secara luring dengan menghadirkan pengajar bahasa Jepang.
Namun, program tersebut belum dijadikan mata kuliah wajib karena masih mempertimbangkan kesiapan mahasiswa dan persetujuan orang tua. Agustina mengakui banyak orang tua yang masih ragu melepas anaknya bekerja atau magang di luar negeri karena faktor jarak dan perbedaan budaya.
“Kami memahami kekhawatiran orang tua. Karena itu kami selalu memberikan pemahaman dan mempertemukan mereka secara langsung dengan pihak pengelola program melalui pertemuan daring agar mereka mengetahui aspek keamanan dan perlindungan peserta,” katanya.
Ia menegaskan seluruh proses pemberangkatan dilakukan melalui jalur resmi dan legal. STIKES Fatima bekerja sama dengan lembaga yang telah memiliki izin sebagai Sending Organization (SO) dan telah berhasil memberangkatkan puluhan tenaga kerja ke Jepang.
“Kami sangat berhati-hati memilih mitra. Saat ini sudah hampir 20 orang yang bekerja di Jepang melalui kerja sama tersebut.
Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap lembaga pelatihan kerja yang tidak legal agar terhindar dari risiko penipuan maupun perdagangan orang,” tegas Agustina.
Program magang Jepang ini juga menjadi salah satu daya tarik STIKES Fatima Parepare dalam penerimaan mahasiswa baru. Hingga memasuki bulan kelima masa pendaftaran, jumlah calon mahasiswa yang mendaftar telah mencapai lebih dari 80 orang.
Sementara itu, Direktur STIKES Fatima Parepare, Dr. Ners Hendrick, menyebut jumlah mahasiswa baru saat ini telah mencapai sekitar 70 orang dan ditargetkan meningkat hingga 100 mahasiswa.
Ia juga mengungkapkan STIKES Fatima terus berbenah untuk meningkatkan status kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut, dengan membuka berbagai program studi baru di masa mendatang, termasuk S1 Keperawatan serta program-program lain seperti farmasi, komputer, ekonomi, administrasi, dan ilmu sosial politik.
“Saat ini kami masih fokus pada pengembangan program keperawatan dan menargetkan peningkatan status menjadi institut sebagai langkah menuju transformasi yang lebih besar di masa depan,” ujarnya. (*)