INSIDENNEWS.com, BARRU– PLN Indonesia Power UBP Barru (PLTU) memanfaatkan air laut yang diolah melalui teknologi desalination plant untuk memenuhi kebutuhan operasional pembangkit. Air hasil pengolahan tersebut juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat sekitar yang terdampak kekeringan.
Humas PLN Indonesia Power UBP Barru, Suryadi, mengatakan, pengolahan air laut dilakukan menggunakan Water Treatment Plant (WTP) dengan sistem desalinasi. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas operasi sekitar 200 ton, saat dikonfirmasi usai jumpa pers di kafe Hans, jalan Cappa Galung, Kota Parepare, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, air laut yang memiliki kadar garam tinggi diproses melalui sejumlah tahapan hingga menjadi air murni yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan di lingkungan PLTU.
“Membutuhkan stok air yang banyak, jadi yang paling terdekat itu sumbernya. Air laut yang tadinya berkadar garam tinggi itu dibuat dan diubah melalui beberapa proses sampai menjadi air murni,” tuturnya.
Suryadi menjelaskan, salah satu fungsi utama air hasil desalinasi adalah mendukung proses pembangkitan listrik, khususnya sebagai bagian dari sistem pendinginan.
“Airnya dipakai untuk proses pendinginan. Pendinginan dari pembakaran yang nanti terevaporasi menghasilkan uap. Uapnya yang bakalan memutar sudu-sudu turbinnya yang menghasilkan listrik,” jelasnya.
Selain proses pembangkitan, air tersebut juga digunakan untuk pendinginan mesin, kebutuhan operasional di dalam unit, serta sistem hidran yang disiapkan sebagai cadangan untuk penanganan kebakaran.
“Untuk air hidran, karena di setiap unit itu akan ada jalur hidran untuk firefighting. Jadi, ada air yang memang standby jika ada kejadian seperti kebakaran dan lain-lain,” katanya.
Di tengah kondisi kekeringan, PLTU Barru juga memanfaatkan ketersediaan air untuk membantu warga di sekitar pembangkit yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur-sumur warga mengering.
“Air itu kami gunakan juga untuk membantu kekeringan warga di sekitar sana. Terdampak kekeringan karena kasus El Nino ini,” ujarnya.
Suryadi mengatakan, selain bantuan air, pihaknya turut memberikan dukungan berupa sembako dan masker kepada masyarakat untuk membantu mengurangi dampak kekeringan serta debu yang meningkat akibat kondisi angin.
“Kebutuhannya saat ini lebih ke air, terutama karena dampak kekeringan sumur-sumurnya. Sama mungkin lebih ke perhatian khusus, karena memang dampak debu dari kencangnya angin hembusan El Nino ini. Kami biasanya support sembako, kami berikan masker agar mengurangi dampak langsung dari debu,” ungkapnya.
Ia menyebut respons masyarakat terhadap bantuan yang diberikan cukup baik. Warga dinilai memahami kondisi yang terjadi, terlebih sebagian masyarakat sekitar juga bekerja di lingkungan PLTU.
“Alhamdulillah warganya sebenarnya welcome dan mengerti. Karena beberapa warga di sekitar itu merupakan pekerja di tempat kami juga di PLTU. Jadi, rata-rata pasti otomatis lebih senang dan lebih merasa terbantu,” tuturnya.
Suryadi menambahkan, PLTU Barru juga tengah merencanakan penggunaan paranet untuk membantu mengurangi dampak debu. Rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan ditargetkan masuk kontrak pada akhir tahun atau awal tahun depan.
“Kami dari PLTU bisa tetap support full dan bisa lebih baik lagi ke depannya,” katanya.
Ia berharap hujan segera turun sehingga dampak kekeringan dan debu yang dirasakan masyarakat dapat berkurang.
“Semoga segera turun hujan, biar dampak kekeringan dan debu-debu ini bisa lebih terminimalisir,” harapnya. (*)